Minggu, 17 Januari 2016

Berbuat baik kepada orang tua


orang tua ayah dan ibu merupakan manusia yang paling berhak mendapatkan perbuatan baik dari diri kita, anaknya Oleh karena itu, kita wajib menjaga adab terhadap keduanya \. Baik adab ketika berbicara, bersenda gurau, berjalan, dan adab dalam setiap perilaku dikehidupan kita bersama keduanya. terutama kepada ibu yang melahirkan kita 
dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa pada suatu hari datanglah seseorang kepada Rasulallah SAW seraya berkata, "Wahai Rasulallah siapakah manusia yang paling berhak untuk mendapat perlakuan baik dariku?" Mendengar pertanyaan itu Rasulallah SAW menjawab, "Ibumu," Ia bertanya lagi, " Kemudian siapa?' Beliau menjawab, "Ibumu, " Kemudian siapa lagi?" Ibumu, " Kemudian siapa? " Jawab Nabi, " Bapakmu." (HR. Bukhari-Muslim) 
berbuat baik terhadap kedua orang tua merupakan sebuah kewajiban. Maka kepada keduanyya hendak kita merendah diri berlemah lembut dalam berbicara, tidak melihat kepada keduannya kecuali dengan pandangan penuh kecintaan dan pengagungan, tidak berkat-kata sesuatu yang lebih tinggi dari keduannya. Jika tidak maka hendaknya mendengarkan segala apa yang mereka katakan 
kita juga hendaknya tidak mendahului ayahnya jika berjalan, tidak boleh mendahuluinya berbicara dan pada saat akan duduk, meskipun dia tahu bahwa hal itu adalah lebih utama, hendaknya dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak mendapatkan murka mereka dan berusaha membuat mereka bahagia 
ibnu wahab pernah menceritakan, Imam Abdurahhman bin Al Qoasim Al Utaqi Al Mashri, seorang murid Imam malik bin Anas yang dilahirkan pada tahun 132H dan meningal pada tahun 191H bahwa dia pernah belajar kepada gurunya Imam Malik Al Muwathatha, tiba tiba dia berdiri dalam jangka waktu yang sangat lama, lalu dia kembali duduk. Seseorang bertanya kepadanya kenapa dia berbuat demikian kemudian ia menjawab "Ibuku turun untuk meminta sesuatu yang dibutuhkannya maka dia berdiri untuk itulah aku juga berdiri setelah dia naik, maka aku duduk kembali," (Tartibul Madarik, Al Qadhi Iyadh, Jilid 3 hal 258) 
suatu hari, abu Hurairun RA melihat seorang berjalan di hadapan seorang laki-laki, Lalu Abu Hurairun bertanya kepada orang itu "Siapakah orang laki-laki ini?" Orang itu menjawab: "Dia adalah ayahku." Lalu Abu Hurairah berkata kepa orang itu : Janganlah kamu berjalan dihadapannya, janganlah kamu duduk sama (tingginya) seperti duduknya dan janganlah kamu memangilnya dengan namanya." (HR. Bukhari di dalam Kitab Adabub Al Mafrad hal 20 dan Al Mushaf jilid 11 hal 138) 
hendaknya juga dia berusaha membahagiakan mereka dengan mengerjakan sesuatu yang baik untuk kedua orang tuanya. Dia harus pula cepat cepat menjawab pangilan mereka jika mereka memangilnya Jika dia sedang melakukan Sholat sunat, hendaknya dia cepat cepat menyelesaikannya shalat itu dan menjawab pangilan keduanya dan janganlah dia berbicara kepada keduanya kecuali dengan perkataan yang baik 
adalah sebuah hak keduanya untuk diperhatikan, dirawat, diperlakukan dengan penuh kelembutan dan menuntun kedua tangan  mereka dan tidaklah hamba-hamba akan dinilai taat kepada Allah, Kecuali dengan juga mentaati keduanya (disarikan dari min adabil islam-abdul fattah abu ghudbah)

Aham edisi 124 Robiul Awwal 1437 rubrik Adab

Jumat, 15 Januari 2016

Membesarkan anak kreatif

Membesarkan anak kreatif
Tahukan anda bahwa selama ini kita hanya mengunakan 3 % dari seluruh kemampuan otak kita? itu disebabkan karena sebagaian besar kamampuan otak terkunci di dalam pikiran bawah sadar yang merupakan bagian dari otak kanan. Sementara selama ini hampir seluruh kehidupan kita, baik mulai dari sekolah sampai kegiatan sosial sehari hari, hanya menekankan pada kemampuan otak kiri

Telah  ditemukan bahwa keseimbangan otak kanan dan kiri pada awal kehidupan anak dapat meningkatkan kecerdasan sampai pada batas maksimal. Salah satu unsur yang dikendalikan oleh otak kanan adalah daya kreativitas. Bagaimana mengembangkan daya kreativitas anak ? kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan konsep dan gagasan yang sama sekali baru, berbeda dan inik, yang sebelumnya tidak ada pembuatnya. Kreativitas bukanlah fantasi semata, namun harus mempunyai maksud dan tujuan 

Antara Kreativitas dan Inteligensi
kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku inteligensi, karena merupakan menifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak terlalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linier dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukunghal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ terlalu masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi pada IQ yang lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas 
Mengapa bisa terjadi? J. P. Guilford menjelaskan, bahwa krativitas adalah suatu proses berfikir yang bersifat devirgen. yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban, berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes intelegensi hanya dirancang untuku mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen . Yaitu kemampuan untuk memberikan suatu jawaban atau kesimpulan yang logis, berdasarkan informasi yang diberikan. ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen, walaupun kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapainy oleh ilmu pengetahuan 
Seberapa pentingkah kreativitas? 
kreativitas sangat penting bagi penyesuaian pribadi dan sosial yang baik pada anak. Kreativitas juga dapat memberikan kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar bagi anak. Ini merupakan pengaruh penting dalam perkembangan kepribadiannya tidak ada yang memberi rasa puas yang lebih besar bagi anak, daripada menciptakan sesuatu sendiri. Dan tidak ada yang lebih mengurangi harga diri anak daripada kritikan 

Kamis, 14 Januari 2016

Teori Perkembangan Kognitif dan Fisik Anak Usia Dini

Teori Perkembangan Kognitif dan Fisik Anak Usia Dini

      Teori Perkembangan Kognitif
1.      Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori kognitif Piaget merupakan teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, dan 4) ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
a.       Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
b.      Pengalaman
Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
c.       Interaksi Sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
d.      Ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri (ekuilibrasi), mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
Dalam pandangan Piaget, anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka dengan menggunakan skema untuk menjelaskan hal-hal yang mereka alami. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas seseorang menggunakan dan mengadaptasi skema mereka:
1.      Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.
2.      Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1.      Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.
Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
a.       Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b.      Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
c.       Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d.      Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e.       Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f.       Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2.      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-ojek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakanya berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu, cirri-ciri anak pada tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara bersamaan.
3.      Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.
Tahapan ini terdiri dari empat tahapan yang mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
a.       Pengurutan, yaitu kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
b.      Klasifikasi, yaitu kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
c.       Decentering, yaitu anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
d.      Reversibility, yaitu anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
e.       Konservasi, yaitu memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
f.       Penghilangan sifat Egosentrisme, yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
4.      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwa berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.
3.         Teori Perkembangan Kognitif Vygotsky
Seperti Piaget, Vygotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky, fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.
a.       Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
         Zona Perkembangan Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak.
b.      Konsep Scaffolding
         Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Dialog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.
c.       Bahasa dan Pemikiran
         Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa unuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi internal.
B.     Teori Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik/ motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Menurut Hurlock perkembangan anak usia dini mencakup empat aspek, yaitu:
      Sistem syaraf yang berkaitan erat dengan perkembangan kecerdasan dan emosi
      Otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik
      Kelenjar endokrin yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru
      Struktur tubuh yang meliputi tinggi, berat dan proporsi tubuh
Daur Pertumbuhan Fisik
         Petumbuhan fisik tidak dapat dikatakan mengikuti pola ketetapan yang tertentu. Pertumbuha tesebut terjadi secara bertahap atau dengan kata lain seperti naik turunnya gelombang adakalanya cepat adakalanya lambat.
Daur Pertumbuha Utama
         Studi tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuha aak dapat di bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepat da dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat. Selama periode pralahir dan 6 bulan setelah lahir, pertumbuhan tubuhnya sagat cepat. Pada akhir tahu pertama kehidupan pascalahirnya, pertumbuhan memperlihatkan tempo yang sedikit lambat dan kemudian menjadi stabil sampai si anak memasuki tahap remaja, atau tahap kemataga kehidupa seksualnya.
Keanekaragaman Daur Pertumbuhan
            Ukuran dan bangun tubuh yag diwariskan secara genetik, juga mempengaruhi laju pertumbuhan tersebut. Anak-anak yang mempunyai bangun tubuh kekar biyasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan mereka yang bangun tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan bangun tubuh besar ini, biyasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat dari pada teman sebayanya yang mempunyai bangun tubuh lebih kecil.
Besar Kecilnya Ukuran Tubuh
            Besar kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan juga factor lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon yang mengatur pertumbuhan fisik yang dikelurka oleh lobus anterior dari kelenjar pituitary, suatu kelejar kecil yang terletak didasar sebelah bawah otak.
Tinggi Tubuh
            Anak-anak dengan usia sebaya dapat memparlihatkan tinggi tubuh yang sangat berbeda, tetapi pola pertumbuhan tinggi tubuh mereka tetap mengikuti aturan yang sama. Bila dihitung secara rata-rata, pola ini dapat menggambarkan pertumbuhan anak pada usia tertentu. hal ini dipenganruhi oleh faktor dari dalam (gen) dan faktor dari luar seperti asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan tinggi badan
Berat Tubuh
            Rata-rata berat bayi ketika dilahirkan adalah 3 sampai 4 kg, tatapi ada juga beberapa bayi yany beratnya 1½ sampai 2 kg.Pada waktu berusia 2 dan 3 tahun berat tubuh anak akan bertabah 1½ sampai 2 ½ kg setiap tahunnya. Setelah anak berusia 3 tahun, nampak berat tubuh tidak lagi bertambah dengan cepat, bahkan cenderung pelahan sampai saatnya nanti ia memasuki usia remaja. Pada usia 5 tahun, seorang anak yang normal akan memiliki berat tubuh yang berkisar antara 40 dan 45 kg.
Proporsi Tubuh
            Proporsi tubuh atau perbandingan besar kecilnya anggota badan secara keseluruhan pada bayi jelas berbeda dari proporsi orang dewasa. Pertumbuhan tinggi dan berat badan menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi badan anak lebih cepat dari pada pertumbuhan berat badannya. Kecuali pada tahun pertama kehidupan sewaktu ia tumbuh dengan cepat
Tulang
            Perkembangan tulang yang terjadi pada setiap manusia biasaya mencakup pertumbuhan tulang, perubahan jumlah tulang, dan perubaha komposisi tulang. Perkembangan tulang ini sejalan dengan kecenderungan pertumbuhan umumnya yaitu pada tahu pertama pertumbuhan cepat sekali, kemudia lambat da pada saat remaja menjadi cepat kembali.
            Pertumbuhan tulang terjadi karea memang ada pemajanga pada ujung tulang. Epiphisis, juga disebut tulang rawa memisahka baying tulang atau yang disebut diaphsis dari tulang laiya.
Otot dan Lemak
         Pada saat seseorang dilahirkan, dia sudah mempunyai serabut otot, tetapi masih belum berkembang. Setelah kelahiraya, serabut ini akan berubah ukuran, betuk dan komposisi. Pajag, lebar, dan ketebalan otot ini akan mengalami proses pertumbuhan. Memasuki usia dewasa, otot ini telah berkembang sebanyak lima kali dari saat dilahirkan.
         Dalam perkembangan pembentukan sel lemak ada tiga periode kriis. Periode pertama selama tiga bulan terakhir kehidupan pra lahir, periode kedua selama dua sampai tiga tahun kehidupa pasca lahir dan periode ke tiga atara usia sebelas sampai tiga belas tahun.
Gigi
            Biasanya gigi susu sudah akan memotong graham bayi ketika ia berusia enam sampai delapan bulan, tetapi kapan tepatnya gigi itu tumbuh keluar tergantug pada kesehatan, keturuan, gizi, jenis kelamin anak, dan factor lainnya. Rata-rata anak usia sembilan bulan sudah memilki tiga gigi sedangkan pada usia dua sampai dua setengah tubuh mereka akan memiliki dua puluh gigi susu yang telah tumbuh.
            Setelah gigi susu tumbuh sempurna, dalam gusi anak nantinya calon gigi tetap mlai diberi kapur pengguat. Urutan gigi tetap yag diberi kapur penguat ini sama dengan proses terjadinya pemunculan gigi susu. Rata-rata anak berusia enam tahun akan mempunyai satu atau dua gigi tetap, pada usia sepuluh tahun mempunyai empat belas sampai enam belas gigi susu, da pada usia 13 tahun telah memiliki 27 atau 28 gigi tetap. Empat gigi tetap terakir, yang serig disebut sebagai gigi kebijakan akan tumbuh pada usia 17 dan 25 tahun.





Selasa, 05 Januari 2016

Jangan buat anak menjadi penakut Bag. 1

Jangan buat anak menjadi penakut Bag. 1

sikap penakut merupakan situasi kejiwaan yang berjangkit pada anak - anal kecil dan orang dewasa, laki-laki maupun perempuan sikap ini kadang dianjurkan selama masih dalam batas alami anak-anak sebab merupakan media untuk menjaga dan menjauhkan anak dari berbagai bahaya
tetapi jika perasaan takut itu melampui batas-batas kewajaran alami maka dapat menyebabkan kegoncangan jiwa pada diri anak -anak. bagi mereka, hal ini dianggap sebagai suatu masalah kejiwaan yang harus diatasi dan diperhatikan
para ahli jiwa anak mengatakan "pada usia tahun pertama, kadang anak menunjukkan tanda-tanda ketakutan ketika tiba-tiba terjadi keributan atau melihat sesuatu yang jatuh secara mendadak atau sejinisnya. pada usia 6 bulan, anak akan takut kepada orang-orang yang belum dikenal sedangkan pada usia 3 tahun, banyak sekali hal-hal yang ditakuti, seperti, binatang, mobil, benda benda yang bergerak dan lain-lain
pada umumnya anak-anak wanita lebih banyak menampakkan ketakutanya dibandingkan anak laki-laki. rasa ketakutannya pun akan berbeda sesuai dengan kondisi dan imajinasi anak. jika intensitas imajinasinyya itu lebih banyak, maka rasa ketakutannya pun akan lebih banyak pula "(Dr. Nabih Al Ghibrah, Al Musykilat. As Sulukiyah Indal Athfal, HAL. 150)
Ada beberapa faktor terpenting yang bisa meningkatkan perasaan takut pada anak-anak, diantaranya:
  1. kebiasaan orang tua menakut-nakuti anaknya dengan bayangan kegelapan atau makhluk-makhluk aneh misalnya "Awas disana ada syetannya...!
  2. kebiasaan orang tua memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan 
  3. mendidik anak biasa menyendiri dan berlindung dibalik dinding-dinding rumah 
  4. sering bercerita khyal yang berkaitan dengan jin dan syetan 
dan masih banyak lagi faktor faktor lain yang dapat menimbulkan ketakutan pada diri anak
oleh karena itu hendaknya dalam mendidik anak memperhatikan hal hal sebagai berikut, antara lain :
  1. didiklah anak anak sejak masa kecilnya dengan akhidah keimanan dan kesadaran kepada Allah wa Rasulihi SAW latihlah untuk berserah diri kepada-Nya ajarilah berjuang dijalan Allah di setiap waktu biasakan riyadhoh (prihatin) sejak dini sehingga jika anak-anak sudah terdidik dengan keimanan dan terbiasa melakukan ibadah dan riyadhoh, ia tidak akan takut jika suatu saat mendapat cobaan, dan tidak akan gelisah jika ditimpa musibah. ia akan kembali berserah diri kepada Allah dengan meningkatkan ibadahnya dan riyadhoh riyadhoh batiniyah 
  2. memberikan kebebasan bertindak kepada anak, memikul langsung tanggung jawab dan berlatih menjalankan tugas-tugas sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya 
  3. jangan sering manakut-nakuti anak dengan binatang buas, hantu, syetan, jin dan sebagainyya, terutama ketika sedang menangis agar anak terlepas dari bayang bayang rasa takut, dan tumbuh diatas keberanian 
  4. sejak anak mencapai usia mampu berpikir, hendaknya diberi keleluasaan untuk bergaul secara praktis, bertemu dan berkenalan dengan orang lain, agar di dalam lubuk hatinya tumbuh sikap dan sifat kasih sayang, kecintaan kepada sesama dan hormat serta mau menghargai orang lain 
  5. orang tua juga dapat mengajarkan kisah-kisah perjuangan para Nabi dan Rasul para sahabat para auliya dan para pahlawan penegak kebenaran Kisah heroik orang orang besar dan mulia tersebut diharapkan dapat menumbuhkan akhlak mulia dalam hatinya, jiwanya terbina dengan keberanian, kepahlawanan dan cinta pada perjuangan 
selai itu, yang juga penting dan harus menjadi perhatian orang tua dalam mendidik anak antara lain :
  • jangan memarahinyya, jangan membentaknya dan jangan menyakiti fisiknya seperti mencubit, memukul atau menyentilatau yang lainnya. kelak anak anda akan meniru perlakuan anda menjadi seorang pemarah yang mungkin akan lebih tempramental dibandingkan sifat orang tuanyya. ada kalanya anak sudah mulai redadari amukkanya ketika ia marah, ia akan kembali mengamuk karena perlakuan kasar anda jadi berusahalah tenang selalu sabar dan selalu mengunakan akal sehat kita untuk menghadapinyya seperti : dengan memberinnya pemahaman atas hal yang terjadi lewat permainan kata-kata yang dikemas dengan lembut dan bijaksana tanpa perlu berdebat atau memaksakan kehendak kita terhadapnyya karena pada saat anak mengamuk mereka tidak mengunakan kal sehat, hanya bisa mengamuk dan mengamuk saja 
  • jangan pernah membuat anak merasa diberi hadiah atau merasa dihukum karena mengamuk. begitu juga agar jangan mengabulkan keinginan nak karena ia mengamuk. sebab anan akan belajar/berfikir bahwa amukannya membawa kemenangan bagi dirinya yang akan mengakibatkan peningkatan kadar ke-egoisan anak pada masa pertumbuhan selanjutnya. abaikan saja amukan biarkan dia mereda sendiri. setelah itu baru kita perjelas pokok permasalahannya berikan solusi dan konsekuensinya atas tindakan dia barusan 
  • memperkecil kemungkinan nak untuk melukai diri sendiri atau orang lain ata merusak sesuatu. karena pada saat mengamuk, anak tidak dapat menguasai dirinya sendiri. dia juga sangat ketakutan dan bingung dengan amarahnya. beri sentuhan atau pelukan lembut dari arah belakang tubuh si anak dan bila dia menolak / tidak mau dipeluk maka jangan mekasa, biarkan dia menangis atau bergulingan atau duduk dilantai tapi... awasi ketat anak anda dan lingkungannya sekitarnya, cegah secepatnya bila anak hendak menyakiti idirinya sendiri seperti memukul dirinyya sendiri atau membenturkan kepala/bagian tubuh lainnya ke lantai atau dinding atau sebagainyya yang kita angap berbahaya. dan singkirkan semua barang barang di sekitarnya yang mungkin bisa membahayakan anak anda secepatnya 
  • tidak perlu merasa malu menangani amukan anak didepan umum. banyak orang tua yang merasa malu jika anaknya mengamuk ditempat umum sehingga mereka akan segera menyogok anaknya agar amukanya reda. Hal ini akan sangat merugikan, karena begitu anak anda belajar tentang situasi ini, dia akan selalu mengunakan amukanya sebagai senjata agar semua keinginanya dikabulkan. jika ini terjadi maka orang tua akan sulit mengendalikan keinginan anak. kelak orang tua tersebut baru akan menyadari serta mengeluhkan sifat anaknya yang menjadi amat manja cengeng, galak, egois, banyak maunya dan rewel  
Aham edisi 122 Dzul Hijjah 1436 H

Jumat, 01 Januari 2016

Mengapa anak kita nakal




Sering kita jumpai saat ini banyak sekali lkeluhan keluhan dari orang tua yang memiliki anak nakal/bandel wajar atau tidak? Menurut saya itu hal yang wajar apabila kondisi lingkungan disekitar dan pengaruh orang orang terdekat demikian tetapi itu tidak wajar apabila kondisi di lingkungan dan orang orang terdekat tidak seperti itu. Karena kenakalan anak atau sifat bandel anak ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitar dan  orang orang terdekat. Kita ketahi bersama bahwa Allah SWT menciptakan anak dalam kondisai bersih suci ibarat kertas masih polos tidak ada coretan coretan kemudian kita sebagai orang tua lah yang akan mengolah kertas putih itu apakah akan kita penuhi dengan tinta hitam, merah, kuning, hijau dll
Secara hitung menghitung pengaruh dari orang tua menghasilkan angka sampai 80 % baru sisanya dari lingkungan 15% dan dari orang lain 5% 

Betul saja pengaruh orang tua sangat besar disamping kita adalah guru bagi anak anak kita untuk belajar hidup ada ikatan batin/emosional yang tidak bisa lepas dari keduanya kususnya seorang ibu. Nah dari sini coba kita flashback sebelum kelahiran anak kita saat masih dalam kandungan ibu mulai dari awal satu bulan usia kandungan anak kita masih berupa gumpalan darah hingga bulan kedua, ketiga dan pada bulan ke empat inilah Allah meniupkan ruh kepada calon anak kita, hal yang paling perlu diperhatikan saat anak kita dalam kandungan kususnya pada bulan ke empat kita sebagai orang tua harus bisa menjaga sifat perilaku adab tata karma pemikiran dan perbuatan karena apa yang akan kita lakukan pada saat itu akan dituangkan kedalam calon anak kita oleh Allah jika kita selama menjalani hidup di usia kandungan anak kita kita selalu berbuat baik, berperilaku baik sopan penuh adab tata karma dan sebagainya itu maka anak kita kelak pasti akan mengikuti perilaku yang mirip atau hamper sama yang kita lakukan saat itu dan begitu juga sebaliknya. 

Dari sinilah awal mula anak kita memiliki sikap saat lahir nanti dia akan mengikuti apa yang telah diperbuat oleh kedua orang tuanya, mengapa demikian ?
Seperti yang saya bilang diatas ikatan batin antara orang tua dan anak lah yang menghubngkan kita pada si anak tersebut sehingga sang anak akan berusa melakukan apa yang ia ketahui melalui perbuatan perbutan kita orang tua jadi kita tidak usah heran apabila nanti anak kita memiliki persamaan sikap dengan kita sebgai orang tua karena dari situlah anak kita mengenal dan mengerti kehidupan, entah itu nakal, baik, bodoh, pitar, cerdas dan sebagainya 

Selanjutnya setelah sifat orang tua yang mempengaruhi nakal dan tidak nya anak saat di kandugan sekarang sifat orang tua yang tidak kita sadari saat anak kita sudah lahir dan sudah mulai bisa menirukan sesuatu yang dia lihat hati-hati dengan yang satu ini karena memori anak yang masih dalam usia seperti ini (1-4 tahun) sangat peka dan mudah sekali menyimpan apa apa yang dia lihat , hal yang paling kecil yang tidak kita sadari semisal kita meludah sembarangan dan itu dilihat oleh anak kita itu akan berdampak sangat buruk bagi sang anak dia berangapan kalua perbuatan itu adalah perbuatan yang boleh dilakukan anak kita yang masih belum tau apa apa akan mencontoh dikemudian hari bahkan bila anak kita cerdas dia akan mengembangkan perbuatan itu menjadi lebih parah lagi dengan apa yang dilakukan oleh kita orang tua jadi berhati hatilah saat kita berada dekat dengan anak kita yang masih dalam usia perkembangan.
Dari hal sekecil itu sampai hal yang besar bahaya yang membuat perilaku anak kita tidak sesuai yang kita harapkan 

Banyak hal yang tidak harus kita lakukan dihadapan anak anak kita yang dalam masa perkembangan 


  •  Marah-marah  
  •  Berbicara kotor/jelek/mengumpat ngumpa 
  • Bertingkah laku aneh 
  • Meludah/kencing sembarangan 
  • Jail 
  • Bertingkah kurang sopan dll

Kalua kita bisa menghindari perbuatan perbuatan tersebut dihadapan anak kita setidaknya kita bisa mengurangi sifat nakal yang muncul dalam anak kita meski masih ada banyak factor lagi yang bisa mempengaruhi hal tersebut tapi setidaknya kita telah berusaha untuk mendidik anak kita